Resensi Buku Fiksi
Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
| Judul Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Pengarang Kumpulan Karangan Himpunan Pengarang Indonesia Aksara Seri No. 011/AL/AK/IV/83 Penyunting Korrie Layun Rampan dan Matheus Elanda Rosi Ds Penerbit PT. Aries Lima Tebal 436 hlm. Berat 430 gr Ukuran (21x15x2.3) cm Harga 65 ribu by. Kausalina Pada saat lagu Hymne Guru berkumandang, tidak banyak yang kita pikirkan selain tunduk dan mengenang sosok guru yang senantiasa memberikan sedikit ilmunya untuk kita. Di era milenial ini profesi guru masih menjadi harapan dan kontributor terhandal karena beliau bukan hanya mengajari kita ilmu dunia tapi juga ilmu hakikat yang tentunya membawa kita ke alam yang sesungguhnya tempat kita berada nanti. Indonesia adalah sebuah negara, arti negara itu adalah bahwa ada wilayah, rakyat dan kedaulatan di sana. Hal ini tercermin pada Piagam Jakarta yang akhirnya menjadi Pembukaan UUD 1945 alinea 4 yaitu "Mencerdaskan kehidupan bangsa serta mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia". Seorang ustadz, seorang misionaris, seorang brahmana/siksaka atau apapun sebutannya ada keajaiban sendiri teristimewa di tanah Jawa yaitu GURU. Kumpulan puisi dan cerita pendek dari buku ini mengupas sosok guru jaman dulu yang akan diresensi di era sekarang. Puisi
Cerita Pendek
Kelebihan dan kekurangan masing-masing Prosa dan Sastra diatas mari kita kupas sejenak, ....Puisi
(+) Guru merupakan pencetak dan pembina basis genarasi muda dan pembuat Taman Surga dan Guru diibaratkan sejumput garam. 2. Guruku Pahlawanku, Arry Fachurorroji (-) Guru dianggap takut menghadapi tantangan jaman. Puisi ini membandingkan taraf hidup guru untuk ditingkatkan agar tercipta kebersamaan antara rakyat dan pemerintah. (+) Guru tetap mengedepankan dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Pancasila dan UUD 1945. 3. Terima kasih Bu, Terima kasih Pak, Mursal Estene (-) Guru mendapatkan serangkaian doa, jadi doa mana yang ingin disampaikan. (+) Guru mendapatkan ucapan terima kasih dari kesederhanaannya. Cerita Pendek
(-) Majas Metafora, yakni persahabatan antara Patung seorang Guru dengan Burung Gelatik yang saling mendukung peristiwa dan aktifitas anak manusia yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari sehingga mengabaikan wujud dan karakter Sebuah Patung Guru. (+) Patung Guru tersebut bisa menangis dan melihat kejadian disekelilingnya antara lain : tidak ada kunjungan memberi bunga setiap tahun, sosok gadis yang rajin berusaha mencari uang tapi mendadak ayahnya sakit tapi tidak diperbolehkan pulang oleh pimpinannya gara-gara takut gadis itu tidak akan kembali ke perusahaannya, sosok gadis yang menabung untuk membeli biola, merelakan uangnya untuk memperbaiki rumahnya yang terbakar, sosok anak dari keluarga miskin yang pintar dan rajin bertekad ikut ujian untuk mendapatkan beasiswa dan menumpang di rumah pamannya kuli pabrik, tidak bisa membeli buku dan mengurangi makannya setiap hari, sehingga pihak Walikota memerintahkan merobohkan Patung Guru tersebut dan membuang sahabatnya Gelatik akhirnya Tuhan menginginkan keduanya diberi tempat di sisi Nya. 2. Bukan Belenggu, Titie Said, Bojonegoro, 1935-2011 (-) Kejadian pada masa penjajahan Jepang, keluarga Guru bersama anaknya yang bernama Utari berusaha memberontak ingin memberikan pengajaran kepada anak-anak di desa Tulung, tetapi Kompetai Jepang berbuat anarki dan tidak manusiawi sehingga hampir mematahkan cita-cita mereka. (+) Akhir cerita Bapak dan Ibu Utari meninggal dan Utari berhasil menjadi Dosen, dan rumah Bapak guru tersebut berubah menjadi SMA 1 Tulung yang diresmikan oleh Menteri pada saat itu. 3. Bangsa yang besar Sejarah yang benar, Titiek W.S, Pekalongan, 1939- (-) Sosok Pak Basuki Waluyo sebagai seorang Guru Bahasa Indonesia dan Sejarah yang dikenal sangat angker dan bertampang keras dari Jawa Tengah mendidik dengan sungguh sungguh begitu pentingnya mata pelajaran Sejarah bagi murid-muridnya. (+) Bagi murid-muridnya yang berhasil mendapat didikan dari Pak Waluyo tersebut hanya bisa mengenang kebenaran Pendidikan Sejarah bagi dirinya dan anak-anaknya. 4. Ayahku seorang Guru Mengaji, Hamsad Rangkuti, (-) Sosok Pak Sanusi sebagai Guru mengaji yang mengajarkan berwudhu, sembahyang dan membaca doa di rumah, menghidupkan pengajarannya dari usaha membuat kasur dan membaca doa di makam-makam umum. (+) Sosok Pak Sanusi ini mempunyai fiilsafat bahwa agama itu untuk orang hidup bukan untuk orang mati, demikian menjelaskan keindahan dan keelokan suatu ilmu. 5. Halmahera, Gerson Poyk, Pulau Rote, 1931-2017 (-) Perjalanan seorang Guru Muda dari Tanah Jawa yang mengabdi di Pulau Halmahera, sampai akhirnya menemukan Fatima siswi SMA Katolik yang tambatan hatinya tapi terpisah setelah 20 tahun lamanya. (+) Bapak Guru tersebut berhasil mendapatkan cintanya meskipun melewati proses yang cukup lama. 6. Matahari menjelang senjakala, Leon Agusta, Tanjung Sani, 1938-2015 (-) Menceritakan kehidupan keluarga guru Bapak Abdul Khatab dan anak anaknya yang sudah berhasil dan menempuh pendidikan dan karier masing masing. (+) Jejak karier Guru Papa atau Bapak Guru Abdul Khatab memberikan ungkapan rasa syukur pada saat masa pensiun dan mulai mengemas perbekalan untuk pulang ke rumahNya. 7. Guru di Desa terpencil, Rachmat Ali, (-) Perebutan Ibu Guru Yati yang mengajar di Desa terpencil antara Pak Lurah dan Pak Kusir Dokar. (+) Kemenangan Pak Arman kusir dokar mendapatkan cinta sejati Ibu Guru Yati. 8. Bapak Guru di Boven Digul, Lies Said, (-) Seorang Said di jaman Penjajahan Belanda dibuang ke Boven Digul gara-gara menyatakan bahwa Bumi Nusantara ini pasti terlepas dari penjajahan. Meneer Said adalah lulusan Sekolah Guru. (+) Bapak Guru Said mendirikan bangunan sekolah dan mau mengajar sampai akhirnya rindu kampung halaman di Tuban, Jawa Timur. 9. Hati yang Terbagi, Maria A Sardjono, Semarang, 1945- (-);;;berlanjut |

Komentar
Posting Komentar