Langsung ke konten utama

Psikologi Siswa/Mahasiswa Sekolah Cuma Cari Pacar

 ;



Psikologi siswa/mahasiswa sekolah/kuliah cuma cari pacar Psikologi siswa/mahasiswa yang hanya mencari pacar bisa disebabkan oleh beberapa faktor yang mungkin berbeda-beda pada setiap individu. Beberapa kemungkinan faktor tersebut antara lain: Tekanan sosial: Siswa/mahasiswa mungkin merasa tertekan oleh lingkungan sekitarnya yang menganggap memiliki pasangan sebagai suatu hal yang penting atau sebagai suatu prestasi sosial. Hal ini bisa membuat seseorang merasa harus memiliki pasangan agar bisa diterima atau dianggap sukses. Rasa kesepian: Siswa/mahasiswa mungkin merasa kesepian atau merasa tidak termasuk dalam kelompok sosial tertentu. Kehadiran pasangan dapat memberikan rasa nyaman dan membantu mengurangi rasa kesepian tersebut. Kebutuhan untuk dicintai: Kebutuhan untuk dicintai dan diterima oleh orang lain adalah kebutuhan dasar yang dimiliki oleh semua orang. Siswa/mahasiswa mungkin merasa bahwa memiliki pasangan adalah cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan ini. Namun, perlu diingat bahwa mencari pacar tidaklah salah, selama hal tersebut dilakukan dengan cara yang sehat dan tidak mengganggu aktivitas belajar atau tanggung jawab lainnya. Sebaliknya, memiliki hubungan yang sehat dapat memberikan dukungan emosional dan meningkatkan kesejahteraan psikologis. Jika seseorang merasa bahwa dirinya hanya mencari pacar karena tekanan sosial, rasa kesepian, atau kebutuhan untuk dicintai, sebaiknya ia mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Misalnya, mencari teman yang memiliki minat atau hobi yang sama, atau terlibat dalam kegiatan sosial yang positif. Dengan cara ini, seseorang bisa memperluas lingkaran sosialnya dan merasa lebih terhubung dengan orang lain tanpa harus tergantung pada kehadiran pasangan. ☺☺

Komentar

Possitive_Negative

12 Hukum Universal, Ringkasan

                                                                   Picture. Ukuran Mutiara Laut by Kausalina                                    Budaya kuno selalu secara intuitif mengetahui tentang 12 hukum universal. Hukum-hukum tersebut dianggap sebagai hukum intrinsik dan tidak berubah di alam semesta kita yang sering dikaitkan dengan meditasi untuk kebebasan dan pencerahan. Hukum-hukum tersebut dapat dikaitkan dengan filsafat hermetis yang berasal dari tempat-tempat kuno seperti Mesir, Machu Pichu, dan bahkan budaya-budaya yang sekarang ditemukan yang sudah ada sebelum Banjir Besar. Daftar hukum kuno tersebut masih ada dan banyak orang di seluruh dunia masih menggunakannya hingga saat ini. Dipercaya, bahkan oleh ...

Mengenal Seni Shibori untuk membuat Kerajinan Jumputan Motif Kain Bangun Datar

 Sejarah Kain Jumputan Kain jumputan dikenal juga dengan sebutan kain pelangi. Pada zaman Sriwijaya, Sumatera dan Jawa dikenal dengan adanya kain patola sutera, sehingga dapat disimpulkan bahwa munculnya seni jumputan diperkirakan dengan masuknya kain sutera dan benang yang didatangkan dari Cina abad ke-7 sampai ke-8. Terdapat bukti sejarah tentang ditemukannya teknik batik jumputan di Indonesia yakni pada Prasasti Sima pada abad ke-10. Di Jawa, daerah yang mengembangkan Batik Jumputan ini adalah Solo, Yogyakarta, dan pekalongan. Dulu, batik ini diwarnai dengan pewarna alami, teman-teman. Batik Jumputan(Ikat celup ) atau dalam bahasa inggris dikenal tie- dye dan dalam bahasa jepang dikenal shibori. Shibori adalah teknik menghias kain atau bahan tekstil yang dilakukan dengan cara mencelup kain yang sudah diikat, dijahit, atau dilipat sesuai pola tertentu. Sedangkan jumputan adalah teknik batik yang menggunakan bahan perintang berupa batu, biji atau kelereng pada bidang kain lalu ika...

Fenomena Proses Kewirausahaan di Indonesia

  Source. Kausalina, 2025           Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2023 mencatat bahwa jumlah wirausahawan di Indonesia mencapai lebih dari 56 juta orang. Namun, jumlah tersebut hanya sebesar 3,47 persen dari total penduduk Indonesia.            Selain itu, jumlah wirausahawan muda berusia 20-29 tahun masih cukup rendah, yakni sebesar 6,1 juta orang, atau kurang dari 11 persen dari total wirausahawan di Indonesia.           Angka tersebut jauh di bawah jumlah wirausahawan berusia 50 tahun ke atas yang tercatat sejumlah 23,9 juta jiwa, atau 42,68 persen dari total wirausahawan di Indonesia.           Saat ini Indonesia memiliki populasi anak muda yang sangat besar. Jumlah Generasi Z dan milenial di Indonesia melebihi setengah dari jumlah populasi Indonesia, dengan Generasi Z mencapai 74,93 juta jiwa dan generasi milenial mencapai 69,38 juta jiwa. ( https://w...