Langsung ke konten utama

Ikatan Terkuatku Eps. 2

 

TEMA : URBAN HYPE

JUDUL : IKATAN TERKUATKU Eps. 2

(THE STRONGEST BONDS Eps. 2)


           Luna memang cantik, semangat dan energik apalagi dia anak tunggal, diasuh dan dirawat oleh Bapak Guru Olah Raga bernama Pak Tadi dan Ibu Perawat di Rumah Sakit Swasta yang sangat ternama dan diakui oleh Pemerintah.

 Yah, membayangkan kehidupan Luna seperti kehidupan orang orang yang tinggal jaman dulu, maklum distrik tempatku tinggal adalah sekumpulan orang-orang priyayi yang menjunjung tinggi etika dan kehormatan keluarga.

            Persiapan kenaikan kelas 3 SMU ini benar-benar menyita seluruh waktuku. Pagi hari pukul 7 tepat, pelajaran di sekolah sudah dimulai. Semua teman-temanku sibuk dengan percakapan hendak kemana kita setelah lulus SMU ini.

            “Lun, kalau masih batuk-batuk, biar aku saja yang ke rumahmu!”

Senyumnya mengembang. Yah, jarang ada anak SMU akhir tahun yang senang merapat dan menyambut dengan baik anak yang baru datang ke desa kami. Aku memang warga baru di kota itu, tapi sapaan ku rupanya kurang berarti bagi mereka, Yah, mungkin karena aku berasal dari Luar Pulau. Tapi setidaknya di saat Hari Ulang Tahunku, tak lupa kubagikan aneka kue sebagai tanda aku adalah teman yang baik.

TEMAN YANG BAIK.

Saat itu ada Pelajaran Keterampilan Menjahit, seluruh siswa harus mengumpulkan hasil karya berupa Rok Pias 4, tapi aku benar-benar lupa. Yah, karena waktu Pagi, pelajaran dan kegiatan OSIS, dan sorenya berbagai macam Les Tari dan Bela Diri Kempo.

“Ini, aku bawakan untukmu satu dan ini untukku,” sahut Luna. Dengan mata terperangah dan hati yang kacau balau, aku melihat ke dalam mata Luna yang indah itu, mata itu sepertinya ingin mengajakku bermain musik, dan menari tarian yang indah.

“Terima kasih, Lun, kamu baik sekali”.

“Kamu kok tahu kalau aku benar-benar tidak membuat tugas dari Bu Wik, Ibu Guru Menjahitku pada waktu itu.

“Aku sangat mengenalmu, sembari tawanya yang mengembang dan matanya yang mengerlip kerlip.”

Dalam hatiku bicara : “ Kamu memang manis, Lun “.

Oya, jangan lupa hari Sabtu Siang ada lomba Seni Suara, latihan vocal di rumahku ya!”

Memang Sabtu ini merupakan sabtu yang paling berat untukku, karena paginya aku harus mengikuti Lomba Pidato dalam Bahasa Inggris tingkat karesidenan di kota kecil tempatku tinggal, Yah kurang lebih 50 km dari sekolahanku dan hari itu juga Sabtu siang menjelang sore aku harus mewakili teman-teman kelasku Lomba Seni Suara aliran Jazz.

“Kamu terlambat ya, sini aku pijetin”.

Aku dan Luna memang pantas disebut anak hilang. Karena disaat teman-temanku menghibur diri dengan film Bioskop dan Travelling ke gunung. Yah, tempat tinggalku memang berada di lembah Gunung Arjuna, aku lebih senang jalan-jalan turun naik gunung, lembah, desa dan mengitari tempatku tinggal.

Pada hari libur sekolah, saat itu langit cerah dan angin bersahabat, aku mendengar ada yang memanggilku,

“Est…..Est…..Est !”

“Eh, Luna kenapa kamu ke rumahku nggak bilang-bilang, aku kan bisa menjemputmu, ada apa ?”

Maklum jalan menuju rumahku dari rumah Luna sangat jauh dan pada waktu itu belum di aspal, kurang lebih ada 20 km. Luna datang naik sepeda mini sambil membawa kue.

SAHABAT YANG BAIK.

“Est, nanti kalau kamu ada waktu, aku ingin mengajakmu berkeliling sekitar sini, ya.”

Pada suatu hari Minggu Pagi, kami mencoba naik Vespa milik Pak Tadi, karena Luna tidak pernah kulihat naik kendaraan, maka aku inisiatif untuk membonceng dia.

“Eh, jangan menghina ya, aku bisa mengendarai vespa ini.” Setelah berkeliling sampailah di kota, karena jalanan ramai, maka aku pun menawarkan diri untuk membonceng dia.

“Bagaimana Lun, caranya ?” Pertama-tama pedal diinjak kemudian kopling tangan tapi jangan dilepas semua, pelan-pelan”. Singkat cerita aku dan Luna mengelilingi Pasar di kota tempatku bersekolah, tiba-tiba aku lengah, sahut Luna :”Awaaaaaas, ada becak di depan”.

BRAK.

 Jantungku seperti berhenti, mulutku menganga.

“Mati, aku !”

Tukang Becak pun tersenyum terkekeh, nggak pa pa kok, Nak !” nggak ada yang patah, jangan takut.

Alhamdulillah. Puji syukur nggak pa pa, semua aman.

Menjelang akhir pertengahan semester anak-anak kelas 3 SMU sudah di non aktifkan dari semua kegiatan sekolah karena menginjak Ujian Nasional yang merupakan penentuan lulus atau tidak lulusnya siswa SMU pada waktu itu.

            Hasil lomba pun di umumkan, dan Yah, aku mendapat juara I untuk Lomba Seni Suara dan juara 3 untuk Lomba Pidato.

            Syukur Alhamdulillah.

Pada akhirnya kupenuhi hari-hariku menjelang Ujian Nasional dengan mendapatkan undangan dari teman-temanku di kota untuk melihat Bioskop, sebaliknya aku menerima banyak tamu ada yang dari kota, ada yang dari gunung. Mereka datang sekedar bermain-main dan menyanyi lagu yang merdu, mengupas mangga, mandi dan bercerita tentang apa saja.

Yah, kebetulan aku memiliki Pohon Mangga yang rasanya enak sekali.

Ujian Nasional pun berakhir dengan tenang dan menyenangkan.

“Lun, setelah Ujian ini kamu mau kemana ?”

“Aku harus mengikuti keinginan Bapakku untuk sekolah di Malang”.

Ok, kita sekarang kembali ke orang tua masing-masing.

Sebelum dia mengakhiri ucapannya ada rasa kehilangan di matanya.

AKU.

 

Singkat cerita aku ke berangkat ke Jakarta untuk mengikuti arah cita-citaku. Satu bulan, dua bulan, tiga bulan dan akhir bulan ke empat, aku mendapat kemudahan untuk masuk ke Perguruan Tinggi di Provinsi tempat ku tinggal.

Semester satu, semester dua, semester tiga, semester empat, menjelang akhir masa studiku ada rasa kangen yang sangat dalam untuk Luna.

Aku pun berusaha mencari jalan untuk ke rumah Luna apa pun yang terjadi.

Yah, karena waktuku sepertinya mengikis hidupku.

Pagi hari itu aku bersiap-siap pergi ke rumah Luna. Dengan naik sepeda hadiah Bapak, aku berangkat ke rumah Luna. Rumahnya tampak sepi, dan kelihatannya tidak ada orangnya. Aku berusaha tanya kepada tetangga di samping dan di depan rumahnya, dimana sekarang Luna.

Gemuruh petir menyambar, tatkala aku tahu yang terjadi di rumah Luna. Tak dapat kusembunyikan air mataku saat ku tahu Luna ada di mana.

SURGA.

“Belum lulus, Bapaknya meninggal, diikuti Ibunya, anak-anaknya banyak, suaminya pulang ke rumahnya”.

 “Lun, seandainya aku bisa mengajakmu ke kota yang lebih besar, tentu kamu tidak pergi  meninggalkan aku sendiri.”

MENINGGALKAN UNTUK SELAMANYA.

 

 

The End

Komentar

Possitive_Negative

12 Hukum Universal, Ringkasan

                                                                   Picture. Ukuran Mutiara Laut by Kausalina                                    Budaya kuno selalu secara intuitif mengetahui tentang 12 hukum universal. Hukum-hukum tersebut dianggap sebagai hukum intrinsik dan tidak berubah di alam semesta kita yang sering dikaitkan dengan meditasi untuk kebebasan dan pencerahan. Hukum-hukum tersebut dapat dikaitkan dengan filsafat hermetis yang berasal dari tempat-tempat kuno seperti Mesir, Machu Pichu, dan bahkan budaya-budaya yang sekarang ditemukan yang sudah ada sebelum Banjir Besar. Daftar hukum kuno tersebut masih ada dan banyak orang di seluruh dunia masih menggunakannya hingga saat ini. Dipercaya, bahkan oleh ...

Mengenal Seni Shibori untuk membuat Kerajinan Jumputan Motif Kain Bangun Datar

 Sejarah Kain Jumputan Kain jumputan dikenal juga dengan sebutan kain pelangi. Pada zaman Sriwijaya, Sumatera dan Jawa dikenal dengan adanya kain patola sutera, sehingga dapat disimpulkan bahwa munculnya seni jumputan diperkirakan dengan masuknya kain sutera dan benang yang didatangkan dari Cina abad ke-7 sampai ke-8. Terdapat bukti sejarah tentang ditemukannya teknik batik jumputan di Indonesia yakni pada Prasasti Sima pada abad ke-10. Di Jawa, daerah yang mengembangkan Batik Jumputan ini adalah Solo, Yogyakarta, dan pekalongan. Dulu, batik ini diwarnai dengan pewarna alami, teman-teman. Batik Jumputan(Ikat celup ) atau dalam bahasa inggris dikenal tie- dye dan dalam bahasa jepang dikenal shibori. Shibori adalah teknik menghias kain atau bahan tekstil yang dilakukan dengan cara mencelup kain yang sudah diikat, dijahit, atau dilipat sesuai pola tertentu. Sedangkan jumputan adalah teknik batik yang menggunakan bahan perintang berupa batu, biji atau kelereng pada bidang kain lalu ika...

Fenomena Proses Kewirausahaan di Indonesia

  Source. Kausalina, 2025           Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2023 mencatat bahwa jumlah wirausahawan di Indonesia mencapai lebih dari 56 juta orang. Namun, jumlah tersebut hanya sebesar 3,47 persen dari total penduduk Indonesia.            Selain itu, jumlah wirausahawan muda berusia 20-29 tahun masih cukup rendah, yakni sebesar 6,1 juta orang, atau kurang dari 11 persen dari total wirausahawan di Indonesia.           Angka tersebut jauh di bawah jumlah wirausahawan berusia 50 tahun ke atas yang tercatat sejumlah 23,9 juta jiwa, atau 42,68 persen dari total wirausahawan di Indonesia.           Saat ini Indonesia memiliki populasi anak muda yang sangat besar. Jumlah Generasi Z dan milenial di Indonesia melebihi setengah dari jumlah populasi Indonesia, dengan Generasi Z mencapai 74,93 juta jiwa dan generasi milenial mencapai 69,38 juta jiwa. ( https://w...