Langsung ke konten utama

Fenomena Proses Kewirausahaan di Indonesia

 

Source. Kausalina, 2025




        Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2023 mencatat bahwa jumlah wirausahawan di Indonesia mencapai lebih dari 56 juta orang. Namun, jumlah tersebut hanya sebesar 3,47 persen dari total penduduk Indonesia. 

        Selain itu, jumlah wirausahawan muda berusia 20-29 tahun masih cukup rendah, yakni sebesar 6,1 juta orang, atau kurang dari 11 persen dari total wirausahawan di Indonesia.

        Angka tersebut jauh di bawah jumlah wirausahawan berusia 50 tahun ke atas yang tercatat sejumlah 23,9 juta jiwa, atau 42,68 persen dari total wirausahawan di Indonesia.

        Saat ini Indonesia memiliki populasi anak muda yang sangat besar. Jumlah Generasi Z dan milenial di Indonesia melebihi setengah dari jumlah populasi Indonesia, dengan Generasi Z mencapai 74,93 juta jiwa dan generasi milenial mencapai 69,38 juta jiwa.

(https://www.merdeka.com/uang/jumlah-wirausaha-muda-indonesia-masih-sangat-sedikit-apa-soluisnya-226970-mvk.html)

๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜Ž

        Beberapa pertanyaan dan pernyataan sekitar Prakarya dan Kewirausahaan adopsi dari Pemerintah seperti fenomena yang terjadi di atas, itu bukan faktor kebetulan tapi kenyataan.

Prakarya dan kewirausahaan adalah bidang yang mencakup berbagai aspek pengembangan keterampilan praktis dan penciptaan usaha baru. Dalam konteks pengolahan makanan, kosmetik, dan pengobatan, ada beberapa pernyataan dan pertanyaan yang bisa dikonfirmasi:

Pernyataan yang Bisa Dikonfirmasi


1. Pengolahan Makanan :

   - Pengolahan makanan melibatkan berbagai teknik seperti pemasakan, pengawetan, pengeringan, dan fermentasi untuk mengubah bahan mentah menjadi produk yang siap konsumsi.
   - Industri pengolahan makanan harus mematuhi standar keamanan pangan untuk memastikan produk aman bagi konsumen.

2. Industri Kosmetik :

   - Industri kosmetik mencakup produksi produk perawatan tubuh seperti sabun, sampo, krim, dan losion.
   - Produk kosmetik harus memenuhi standarhatan dan keamanan yang ditetapkan oleh badan pengawas obat dan makanan.

3. Industri Pengobatan :

   - Industri pengobatan mencakup produksi obat-obatan, vaksin, dan perangkat medis.
   - Produk farmasi harus melalui proses uji klinis untuk memastikan efektivitas dan keamanannya.

 Pertanyaan yang Bisa Dikonfirmasi


1. Pengolahan Makanan :

   - Apa saja metode pengolahan makanan yang umum digunakan dalam industri ini?
   - Bagaimana proses pengawetan makanan secara ilmiah?

2. Industri Kosmetik :

   - Apa saja bahan aktif yang sering digunakan dalam produk kosmetik?
   - Bagaimana regulasi internasional mempengaruhi produksi kosmetik?

3. Industri Pengobatan :

   - Apa perbedaan antara pengujian preklinis dan klinis dalam pengembangan obat?
   - Bagaimana inovasi teknologi mempengaruhi produksi obat modern?


Dengan memahami pernyataan dan pertanyaan ini, kita dapat lebih mendalami bagaimana masing-masing industri mengaplikasikan prinsip-prinsip prakarya dan kewirausahaan dalam operasional sehari-hari.



Selamat Bereksplorasi๐Ÿ˜๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“


Komentar

Possitive_Negative

12 Hukum Universal, Ringkasan

                                                                   Picture. Ukuran Mutiara Laut by Kausalina                                    Budaya kuno selalu secara intuitif mengetahui tentang 12 hukum universal. Hukum-hukum tersebut dianggap sebagai hukum intrinsik dan tidak berubah di alam semesta kita yang sering dikaitkan dengan meditasi untuk kebebasan dan pencerahan. Hukum-hukum tersebut dapat dikaitkan dengan filsafat hermetis yang berasal dari tempat-tempat kuno seperti Mesir, Machu Pichu, dan bahkan budaya-budaya yang sekarang ditemukan yang sudah ada sebelum Banjir Besar. Daftar hukum kuno tersebut masih ada dan banyak orang di seluruh dunia masih menggunakannya hingga saat ini. Dipercaya, bahkan oleh ...

Mengenal Seni Shibori untuk membuat Kerajinan Jumputan Motif Kain Bangun Datar

 Sejarah Kain Jumputan Kain jumputan dikenal juga dengan sebutan kain pelangi. Pada zaman Sriwijaya, Sumatera dan Jawa dikenal dengan adanya kain patola sutera, sehingga dapat disimpulkan bahwa munculnya seni jumputan diperkirakan dengan masuknya kain sutera dan benang yang didatangkan dari Cina abad ke-7 sampai ke-8. Terdapat bukti sejarah tentang ditemukannya teknik batik jumputan di Indonesia yakni pada Prasasti Sima pada abad ke-10. Di Jawa, daerah yang mengembangkan Batik Jumputan ini adalah Solo, Yogyakarta, dan pekalongan. Dulu, batik ini diwarnai dengan pewarna alami, teman-teman. Batik Jumputan(Ikat celup ) atau dalam bahasa inggris dikenal tie- dye dan dalam bahasa jepang dikenal shibori. Shibori adalah teknik menghias kain atau bahan tekstil yang dilakukan dengan cara mencelup kain yang sudah diikat, dijahit, atau dilipat sesuai pola tertentu. Sedangkan jumputan adalah teknik batik yang menggunakan bahan perintang berupa batu, biji atau kelereng pada bidang kain lalu ika...